Total Tayangan Halaman

Rabu, 17 Februari 2016

Eka Suryani, TKW asal Malang ditemukan tewas di kamar mandi di China




Eka Suryani. ©2016 Merdeka.com

Beritop - Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Malang, Eka Suryani (23) ditemukan meninggal dunia di Kawasan Fujian, China pada Sabtu, 23 Januari. Jenazahnya ditemukan di kamar mandi dalam kondisi telanjang bulat sambil memegangi shower.

Eka ditemukan meninggal dunia setelah 7 bulan bekerja sebagai TKW di Hong Kong. Eka berangkat pada 24 Juni 2015, setelah dua bulan menjalani karantina milik PT Surabaya Yudha Citra Perdana (SYCP) di Sawojajar, Kota Malang.

"Baru 7 bulan ke Hong Kong, kemudian dapat kabar sudah tidak ada," kata Indra Teguh Wiyono, suami Eka Suryani saat ditemui di Jalan Besar Ijen Kota Malang, Selasa (16/2).

Kematian Eka di Fujian, China, karena diajak merayakan perayaan Hari Raya China di rumah keluarga besar majikannya. Namun muncul dugaan kalau Eka juga dipekerjakan di China oleh majikannya. Karena selama dua bulan almarhum berada di China.

"Saya ingin jenazahnya segera dipulangkan ke Indonesia. Sejak dikabarkan meninggal dunia, hingga saat ini, sudah 25 hari belum diketahui kabarnya," katanya.

Keluarga almarhumah di Dusun Mulyosari RT 22/RW 08, Desa Mulyosari, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang mendapat pemberitahuan kepastian meninggalnya Eka, Sabtu (29/1). Namun hingga kini masih belum diketahui kejelasan pemulangan jenazahnya.

Surat pemberitahuan diberikan oleh Direktorat Jenderal Protokol dan Konselor di Hong Kong. Surat tersebut menerangkan bahwa kematian Eka sedang dalam penyidikan pihak berwajib.

Pihak kepolisian Xiamen telah menghubungi KJRI Guangzhou. Kini bersama KJRI Hongkong, KJRI Guangzhou sedang berusaha pemulangan jenazah.

Dugaan sementara kematian Eka akibat kebocoran listrik pada sistem pemanas air di kamar mandi. Keterangan tersebut dikeluarkan oleh KJRI Guangzhou berdasarkan hasil forensik Kepolisian Distrik Nanan, Provinsi Fujian.

Berdasarkan informasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzhou, Eka bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Tai Yuk Mui, yang beralamat di HSE 10 Peak House Tung Lo Wan Shan, Shatin, Hong Kong. Sedangkan rumah majikannya berada di zona industry Xin Yu Ting, Luodong.
Sumber : www.merdeka.com

Survei Ilmiah : Disuruh Memilih, Wanita Ternyata Tak Suka Yang 'Panjang'




Beritop - Bagi sebagian orang, membicarakan alat kelamin memang sangat tabu.

Meski demikian, pengetahuan tentang hal ini, tetap saja membuat penasaran.

Termasuk, penis seperti apa sih yang disukai oleh kaum wanita?

Menjawab pertanyaan itu, kelompok peneliti Swiss, sebagaimana yang ditulis Daily Mirror dalam artikel mereka pada 7 Agustus 2015, mencoba mengadakan survei terhadap para wanita.

Mereka mengumpulkan 105 responden wanita, lalu para responden diberi contoh gambar-gambar penis.

Para responden disuruh memilih, mana yang menurut mereka adalah penis yang terbaik.
Hasilnya mengejutkan, karena para penis dengan ukuran besar, sebagaimana yang selama ini dianggap bisa memuaskan kaum wanita, ternyata tidak menjadi pilihan utama pilihan responden.

Dari beberapa kategori penis, urutan teratas yang dipilih wanita adalah soal bentuk atau penampilan dari penis itu.

kebanyakan responden memilih bentuk yang normal, artinya tidak bengkok.

Lalu urutan kedua,adalah bagaimana rambut di sekitar penis itu. Kemudian, soal penampakan kulit penis, dan besar diameter penis, mendapat poin yang sama di urutan ketiga.

Di urutan kelima, adalah bentuk dari ujung penis.

Sementarasoal panjang, ternyata baru ada di urutan ke-6.

Nah, sudah jelas kan? Bagi yang punya masalah dengan 'panjang', tak perlu berkecil hati... (*)

Bikin Heboh! Siswi Sekolah Pakai Rok Mini, Angkat Kaki dan Pamer Paha di Dalam Bus




      Siswi sekolah di dalam sebuah bus yang berpoerasi di sekitaran Clarke Quay, Singapura. 

Beritop – Pantaskah seorang terpelajar bersikap seperti ini?

Sebuah bus yang beroperasi di sekitaran Clarke Quay, Singapura, baru saja dihebohkan oleh kelakuan siswi sekolah yang sudah kelewat batas.

STOMP, media massa yang berbasis di Singapura, baru saja menerima kiriman foto-foto dari seorang netizen bernama Kiki Lala.

Foto-foto ini menggambarkan kelakuan siswi sekolah yang sudah bikin jengah penumpang bus.
Siswi sekolah yang tidak disebutkan namanya ini duduk di dalam bus dengan cara yang tidak senonoh.

“Gadis sekolah duduk dengan mengangkat kakinya. Wanita agak tua duduk di sampingnya, tampaknya itu ibunya, tapi membiarkan sikap gadis sekolah yang tidak beradab itu,” begitu tulis Kiki Lala kepada STOMP.

Dikarenakan siswi sekolah ini mengangkat kakinya untuk diletakkan pada sandaran kepala pada bangku di depannya, otomatis rok mininya pun tersingkap.

Paha siswi sekolah ini pun menjadi ‘pemandangan’ yang sangat menganggu di dalam bus ini.

“Kakinya mengenakan kaus kaki bau, terletak tepat di samping kepala saya! Apa yang akan Anda lakukan jika hal seperti itu terjadi pada Anda?” lanjut Kiki Lala.


Senin, 15 Februari 2016

LEADERSHIP RT RW UNTUK MEMBANGUN INDONESIA

Pernahkah anda mencari kata RT/RW alias Rukun Tetangga/Rukun Warga di sebuah kamus bahasa Indonesia-Inggris?
Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa anda tidak akan menemukan terjemahan yang pas atas kata tersebut. Tidak percaya ? Mari kita coba liat apa kata kamus yang saya temukan di mbah Google.
Kamus Hasan Shadily menerjemahkan RT sebagai neighborhood association, the lowest administrative unit. Sedangkan RW diterjemahkan sebagai administrative unit at the next-to-lowest level in city, consisting of several RTs.
RT/RW adalah istilah khas yang hanya ada di negeri ini. Kalau kita kembalikan lagi pada konteks struktur kemasyarakatan di Indonesia istilah neighborhood association akan sangat berbeda dengan RT dalam amanat Keppres nomor 49 tahun 2001 tentang Penataan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa atau sebutan lain. Inilah uniknya, RT/RW yang diterjemahkan sebagai neighborhood association di Indonesia secara kelembagaan diatur oleh peraturan perundangan dan diberikan pembinaan oleh pemerintah. Dalam hal pelaksanaan tugas RT/RW merupakan pendukung terlaksananya fungsi administrasi pemerintahan di tingkat kelurahan.
Masih ingat ketika anda membuat KTP? Anda harus meminta surat pengantar dari RT, lanjut ke RW, Kelurahan hingga ke Kecamatan. Itu di tingkat kota. Jika anda berdomisili di suatu kabupaten dimana sistem administrasi KTP belum terintegrasi hingga tingkat kecamatan maka anda harus ke kantor yang mengurusi kependudukan dan catatan sipil. Panjang bukan prosesnya?
Dari sudut pandang birokrasi memang terlihat begitu bertele-tele. Alhasil, banyak yang mengeluhkan lamanya proses pengurusan dan tentu saja adanya beragam pungutan karena harus melewati banyak meja.
Tapi, mari kita coba lihat dari sudut pandang yang lain masalah struktur kemasyarakatan yang kita miliki. Menurut Keppres Nomor 49 tahun 2001 tentang Penataan LKMD Rukun Tetangga dan Rukun Warga dibentuk dengan maksud dan tujuan sebagai berikut:
1. Memelihara dan melestarikan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang berdasarkan kegotong-royongan dan kekeluargaan
2. Manghimpun seluruh potensi swadaya masyarakat dalam usaha meningkatkan kesejahteraan warga
3. Memperlancar pelaksanaan penyelenggaraan di bidang pemerintah, pembangunan, dan kemasyarakatan di kelurahan
Bagaimana pendapat anda? Dahsyat bukan? Mulia sekali bukan? Apa yang anda bayangkan ketika ketiga tujuan di atas bisa dijalankan. Pastilah….kita akan merasakan kenyamanan tinggal di lingkungan kita.
Bagi anda yang dilahirkan sebelum tahun 1990 mungkin masih bisa merasakan bagaimana peran RT/RW ini. Saya sendiri masih ingat ketika masih SD sekitar tahun 1980an setiap bulan selalu ada kegiatan kerja bakti di hari minggu di RW tempat saya tinggal. Hampir seluruh anggota keluarga terlibat membersihkan depan rumah, membersihkan rerumputan, membersihkan got dan merapikan tanaman yang sekaligus menjadi pagar rumah kami.
Masih terbayang pula setiap menjelang tanggal tujuh belas bulan Agustus kami begitu antusias mengikuti berbagai lomba, dari balap karung, memasukkan pensil di botol, menyanyi hingga cerdas cermat. Tak kalah dengan anak-anak, ibu-ibu pun disibukkan dengan lomba bola volly antar RT. Sungguh saya masih sangat merindukan suasana seperti itu. Puncak dari serangkaian acara tersebut adalah acara Panggung Tujuh Belasan yang diselenggarakan tepat di HUT Kemerdekaan Indonesia. Sungguh, saat itu menjadi acara yang ditunggu-tunggu. Dari anak-anak hingga ibu-ibu semua sibuk mempersiapkan acara tersebut. Bagaimana tidak, kami para anak-anak yang diminta untuk manggung mengisi beragam acara. Saya masih ingat, saat itu adik saya yang masih berusia 5 tahun sempat diminta mengisi deklamasi. Tahun berikutnya ia mengisi acara tari-tarian karena kebetulan ia menyukai seni tersebut. Saya sendiri lebih senang menjadi penonton sambil berlari-larian menikmati cahaya rembulan bersama kawan-kawan kecil saya.
Tak hanya itu, ketika saya masih berseragam putih abu-abu kami para pemuda/pemudi di tingkat RT dan RW terlibat dalam kegiatan karang taruna. Hampir seluruh pemuda/pemudi saling mengenal karena setiap bulan selalu ada pertemuan. Selain itu kami juga sering dilibatkan dalam acara-acara pernikahan. Dengan pakaian bawahan hitam dan atasan putih kami pun sigap melayani para tamu. Saat itu, acara pernikahan sangat berbeda dengan apa yang saat ini kita lihat. Dari sisi makanan tamu-tamu cukup duduk di tempat dan kami-kami lah yang akan mengantarkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk termasuk segelas teh hangat. Kami lakukan semua itu dengan riang gembira. Meski tidak ada sepeser rupiah pun yang kami terima sebagai imbalan tapi kami cukup puas dengan sepiring nasi dan lauk pauk yang mengundang selera. Atau mungkin karena di zaman itu kami jarang berlauk daging sehingga hidangan pernikahan merupakan nikmat yang luar biasa ya…entahlah…
Apa yang saya ceritak tentang itu sesungguhnya adalah bagian dari pelaksanaan peran RT/RW dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai ketiga tujuan dibentuknya lembaga tersebut. Yang jelas di perkotaan, termasuk di tempat saya tinggal ,tradisi semacam ini sulit ditemui lagi. Kerja bakti rasanya sekarang sudah digantikan dengan adanya iuran bulanan di RT yang kemudian dari iuran itu Pak RT membayar petugas untuk membersihkan lingkungan. Tak ada yang salah barangkali karena kehidupan masa kini telah berubah.
Tuntutan hidup memaksa anggota rukun tetangga untuk memenuhi kebutuhan yang semakin hari terasa makin tinggi. Akhirnya, waktu pun tersita untuk masa depan keluarga. Meski peran masyarakat atau anggota rukun tetangga dalam menciptakan kehidupan yang lebih nyaman saat ini masih ada tapi peran kerja bakti sebagai media berinteraksi sesama anggota rukun tetangga jelas tak mungkin tergantikan oleh besarnya iuran tiap bulan.
Dalam konsep pembangunan RT/RW bisa dianggap sebagai social capital atau modal sosial yang jika didayagunakan ia akan menjadi sebuah kekuatan besar. Teori pembangunan masa kini pun menyebutkan bahwa modal sosial adalah salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
RT/RW merupakan Model institusional ini lah yang dianggap sangat krusial yang membuat rentang perbedaan antara negara kaya dan negara miskin. Apa kira-kira menurut anda? Sebagaimana peristilahannya maka institusional lebih kepada lembaga negara atau tata kelola pemerintahan yang mampu melahirkan peraturan perundangan serta menegakkannya. Sehingga, segala sumber daya yang digunakan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang besar. Yang termasuk dalam modal institusional di sini adalah property right, produk perundangan, dan tata kelola pemerintahan atau dalam bahasa aslinya disebut sebaga governance, termasuk attitude dan culture. Salah satu unsur yang menjadi bagian dari model institusional ini adalah social capital.
Kalau anda cermati model pembangunan di negara berkembang yang di promosikan oleh negara-negara donor saat ini adalah dengan melibatkan masyarakat dalam pembangunan. Lihat saja, PNPM Mandiri adalah sebuah contoh pembangunan berbasis kekuatan modal sosial. Mengapa? Ya karena dana PNPM in akan bisa dicairkan jika ada kelembagaan berbasis masyarakat yang dinamakan BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) di tingkat kelurahan. Selanjutnya untuk mendapatkan dana masyarakat harus membuat Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang terdiri dari anggota masyarakat dalam lingkup kelurahan tersebut.
Nah, saya sendiri sering membayangkan bahwa Indonesia ini seharusnya lebih hebat dari negara-negara barat. Bagaimana tidak, dengan adanya garis koordinasi dari pemerintah, pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, hingga RT/RW seharusnya pengaturan dan penggerakan arus bawah lebih mudah. Di negara barat struktur kemasyarakatan hanya membagi hingga sub-district atau dalam bahasa kita disebut kecamatan. Kalau kita lihat dari vocabulary atau kosa kata yang mengena pada pembagian struktur kemasyarakatan pun hanya dibagi urban dan rural. Dengan struktur kemasyarakatan yang tidak mengakar saja pembangunan di sana justru lebih maju. Tata kelola pemerintahannya pun jauh lebih baik. Masyarakatnya? Jauh lebih tertib. Lalu apanya yang salah ya?
Akar budaya kita berbeda dengan negara barat. Makanya arah pembangunan pun tak bisa begitu saja di persamakan. Saya sendiri tetap percaya bahwa jika lembaga kemasyarakatan kita berfungsi secara maksimal kita masih punya harapan untuk mempunyai lingkungan yang nyaman. Dengan APBN/D yang terbatas apalagi tidak digunakan secara maksimal tentu akan sulit berharap pada peran negara untuk mengatasi segala permasalahan masyarakat. Sehingga, pembangunan yang perlu digalakkan adalah pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat. Artinya, bagaimana membangun kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Tidak perlu kita ambil contoh yang muluk-muluk. Dalam hal kebersihan sebenarnya yang perlu dibangun bukan lah pada pengerahan petugas persampahan tapi lebih kepada bagaimana menyadarkan masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya.
Suatu saat coba perhatikan perilaku para pemilik mobil pribadi. Terkadang perilaku mereka tak kalah dengan para penumpang angkot. Mobilnya sih keren tapi masalah buang sampah perilakunya sungguh memprihatinkan. Atau ketika anda berkendara di jalan. Lihatlah bagaimana pengendara mobil yang berpenampilan keren atau kadang berkostum ustadz ketika di jalanan tak kalah dengan preman.
Apa langkah yang paling efektif untuk mendidik masyarakat?
Lagi-lagi saya sangat percaya bahwa dengan memberdayakan lembaga kemasyarakatan seperti Kelurahan/Desa hingga tingkat RT/RW masalah seperti ini sebenarnya bisa di atasi. Saya sendiri sering membayangkan seandainya lembaga-lembaga ini didayagunakan pasti hasilnya akan sangat dahsyat. Bayangkan seandainya RT/RW berfungsi sebagaimana maksud dan tujuan didirikannya. Bayangkan kalau pembangunan dilakukan berbasis RT/RW dimana setiap kepala RT/RW bertanggungjawab terhadap pendidikan moral dan etika masyarakatnya. Hmmm apalagi jika beliau ini mempunya jiwa leadership yang mampu menggerakkan anggota RT/RW untuk dengan suka rela membangun lingkungannya.
Jadi intinya untuk kemajuan sebuah lingkungan harus menyamakan persepsi, saling dukung dan bukan saling menyalahkan. Menjunjung tinggi rasa kebersamaan, musyawarah demi sebuah kemajuan. Juga peran aktif dari setiap warga dan juga berpikir positif. Untuk sebuah kemandirian dan kemajuan juga harus mau menerima perubahan. Karena RT/RW organisasi lembaga di bawah pemerintah tapi bersifat sosial, sehingga mereka adalah jiwa sosial yg di unggulkan. Untuk kebersamaan dan bukan ego semata. Sinergi setiap lini yg ada, jika satu lembaga stagnan atau tidak berjalan maka program kemajuan juga tidak akan berjalan dengan baik.
* Di kutip dan disadur dari buku Mark Plus Hermawan Kertajaya dengan judul Leadership 3.0 Seni Kepemimpinan Horizontal Untuk Semua Orang

BERSEPEDA RIA BERSAMA KARANG TARUNA ( Minggu, 07 Februari 2016 )

Nyepeda.....selain santai juga mengasyikkan. Bisa hirup udara segar, menikmati indahnya kota. Kita bisa refresh sejenak....